Jeff

Posts Tagged ‘Nova’

Nova – Lantang

In Nova on December 12, 2008 at 12:20 pm

Previously on Nova… “Manusia

 

Lantang

 

Lantang adalah suara yang bergema di padang gurun. Gemanya menyerukan perubahan.

 

Gemanya menggentarkan yang munafik. Namun merupakan penunjuk jalan bagi yang bingung tanpa arah.

 

Lantang berseru-seru tanpa lelah mempersiapkan jalan menuju yang dijanjikan.

 

Lantang keluar dari mulut seorang pria yang memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.

 

Ia tinggal di tepi sungai di mana airnya keruh oleh ketakutan, kepahitan dan keputus asaan. Yang hidup dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang mengenal Bapa-ku hanya dari tradisi dan dongeng hukuman turun temurun.

 

Pria itu lahir dari kedua orang tua yang sudah lanjut usia. Mereka tidak mempunyai keturunan lain. Bapa-ku tergerak melihat hati mereka yang begitu setia dan belum larut dalam kemunafikan dan bermaksud untuk mengaruniakan mereka buah hati. 

 

Suatu malam Bapa-ku mengirimkan Gabriel, Malaikat-Nya, untuk mengabarkan kabar baik bahwa Bapa-ku tidak memalingkan mata-Nya dari mereka.

 

Sementara itu seluruh bangsa berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Sebuah tradisi yang telah dilakukan ratusan tahun tanpa mereka maknai tindakannya.

 

Maka tampaklah seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu aku menyaksikan sang ayah terkejut dan menjadi takut. Setelah mendengar kabar baik yang disampaikan Gabriel ia menjadi bisu sampai anaknya lahir.

 

Sang anak besar di hadapan Bapa-ku dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras. Ia telah penuh dengan Roh mulai dari rahim ibunya. Aku menyaksikan sang anak tumbuh besar di padang gurun sampai tiba waktunya ia menyerukan perubahan. 

 

Seruannya Lantang memanggil ribuan Manusia yang penasaran akan perubahan yang disuarakannya. Dengan Lantang seruan akan pertobatan dari kemunafikan diserukan.

 

“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” demikianlah seruannya.

 

Maka datanglah kepadanya penduduk dari seluruh daerah sekitar sungai. Lalu sambil mengakui dosanya mereka beramai-ramai menyelamkan dirinya di sungai sebagai sebuah tanda perjanjian bahwa mereka akan berbalik dari kemunafikan mereka.

 

Dari sekelompok ahli tradisi dan tukang dongeng dikirimkan utusan untuk mencari tau apa yang direncanakan pria bersuara Lantang itu. Kepada mereka dengan Lantang ia berseru “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”

 

Sejak saat itu tradisi dan dongeng penghukuman mulai ditinggalkan bangsa-bangsa itu. Seruan tegurannya yang Lantang sampai ke telinga penguasa pada masa itu dan ia pun menyuruh pengawal-pengawalnya untuk menangkap dan membelenggunya.

 

Ia ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang pria bersuara Lantang itu sebagai yang tidak bersalah. Tapi dalam kesedihan atas sumpahnya kepada putri haramnya, penguasa itu maka disuruhnya memenggal kepala pria bersuara Lantang itu di penjara dan kepalanya itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.

 

Pada malam terakhirnya masih dengan Lantang ia bercerita padaku sukacitanya karena bisa mati setelah menunaikan tugasnya.

 

Ia bercerita tentang seorang muda yang yang datang kemudian, yang lebih berkuasa dari padanya dan yang ia bahkan tidak layak melepaskan kasut-Nya.

 

Yang dalam kepatuhan menyerahkan dirinya padanya dan melakukan serendah apa yang orang lain lakukan. Yang setelah keluar dari air dan langit terbuka dan ia melihat Roh Bapa-ku seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

 

“Jalan telah diluruskan” begitu kata-katanya masih dengan Lantang sebelum ia terlelap tidur untuk selamanya.

 

Aku tersenyum penuh linang. Pria bersuara Lantang itu telah bertemu saudara tertuaku Bintang Timur.

 

To be continue…

 

Next on Nova… ”Angin”

 

Nova – Manusia

In Nova on July 4, 2008 at 8:00 am

Previously on Nova… “Bumi

Manusia

Dari semua ciptaan-ciptaanNya, Bapa-ku sangat menyayangi Bumi. Sebuah benda berbentuk bola yang kata-Nya dibuat khusus untuk tempat tinggal mahluk kesayangan-Nya yang bernama Manusia.

Setiap malam aku mengamati Bumi dan melihat begitu banyak hal terjadi di sana. Manusia amatlah unik dan menarik. mereka amatlah pandai dan mempunyai imajinasi yang tinggi. Daya pikir yang Bapa-ku karuniakan untuk mereka jauh melebihi semua ciptaan-Nya yang lain.

Mereka mempunyai kemampuan untuk menciptakan, hampir sama seperti yang dimiliki Bapa-ku. Salah satu pelayan Bapa-ku, Malaikat Gabriel, berkata bahwa mereka mampu berbuat demikian karena Bapa-ku menciptakan mereka serupa dengan Ia. Tak heran terkadang Manusia lupa akan dirinya dan bertindak selayaknya mereka penguasa atas segalanya. Terkadang mereka menganggap diri mereka lebih berkuasa daripada Bapa-ku, yang telah menjadikan Bumi dan segala isinya.

Mereka bahkan menyadari akan keberadaan kami dan pernah berusaha untuk membangun jembatan untuk mencapai tempat kami. Mereka menciptakan sesuatu yang bernama Bahasa. Sesuatu yang mampu menyatukan mereka dan membuat mereka hampir sehebat Bala Tentara Surgawi. Bapa-ku melihat itu tidak baik, karena akan menjadikan mereka sombong dan saling menindas. Untuk mencegah hal itu Bapa-ku mengacaukan Bahasa mereka dan membuat mereka berpencar.

Hingga hari ini, berkat Bapa-ku, ada berjuta-juta Bahasa yang Manusia gunakan untuk berinteraksi. Dengan sebagian kecil kepandaian yang didapat dari Bapa-ku, Manusia mampu membuat perbedaan Bahasa ini sedemikian rupa sehingga Manusia semakin unik dan lengkap.

To be continue…

Next on Nova… “Lantang

Nova – Bumi

In Nova on July 1, 2008 at 9:59 am

Previously on Nova… “Terang

Bumi

Suatu hari Bapa-ku memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap Terang dan Cahaya, Ia memisahkan mereka dengan Waktu. Kepada Terang diberikannya waktu Siang, dan pada Gelap diberikannya waktu Malam.

Meskipun demikian, Gelap dan Terang kerap bertengkar memperebutkan hati sang Kosong. Melihat demikian, Bapa-ku membuat sebuah tempat untuk memisahkan mereka dari sang Kosong. Tempat itu bernama Bumi.

Bapa-ku kemudian mengirim Gelap dan Terang ke Bumi bersama-sama dengan Waktu. Kosong kemudian menjadi kesepian lagi dan kerap merinduka kedua sahabatnya yang kerap menimbulkan masalah itu. Hingga saat ini pun Kosong masih tetap merindukan mereka. Sementara Gelap dan Terang pun masih berusaha mengunjungi Kosong bahkan diluar-luar Waktu mereka.

Untuk membuat mereka betah dan kerasan untuk mendiami Bumi, Bapaku menciptakan Air untuk menjadi penegah diatas mereka. Air dengan sifatnya yang senantiasa memenuhi setiap pelosok yang ada, mampu menjadi penghibur yang berkesan bagi mereka.

Namun dengan kehadiran Air yang menyelimuti, Bumi merasa Air terlalu ada dimana-mana. Dengan segala kuasa-Nya, sebagian dari Air diambil oleh-Nya dan diubahkan menjadi Cakrawala yang menempati Bumi bagian atas, sementara Air tetap memenuhi bagian bawah Bumi. Kepada Air, Bapa-ku juga memberikan batasan-batasan dimana Air akan tinggal. Ia mengumpulkan Air di suatu tempat bernama Laut dan membatasinya dengan Tanah.

Setelah sekian lama, Air bertumbuh dalam kebijakannya dan sadar akan keliarannya dan penyebab mengapa Bapa-ku membatasi gerak langkahnya. Air melihat bahwa Tanah begitu kering dan tandus, sementara saudaranya, sang Cakrawala begitu polos tak menarik.

Air bertanya kepada Bapa-ku apa yang bisa ia lakukan untuk menjadikan Bumi sebuah tempat yang lebih indah. Bapa-ku kemudian mengambil sebagian dari Cakrawala dan menggumpalnya menjadi Awan. Serta membiarkan sebagian dari Air merembes ke dalam Tanah dan menjadi Sungai. Tanah menjadi tampak lebih segar segera setelah Air mengaliri dirinya. Sejak saat itu hingga saat ini, Tanah yang dialiri Sungai menjadi sebuah tempat yang jauh lebih subur ketimbang yang tidak.

Dengan sentuhan artistik-Nya, Bapa-ku kemudian menciptakan Tumbuhan dan Hewan untuk mendiami Bumi. Ia menempatkan mereka di segala penjuru Cakrawala, di kedalaman Laut dan di seluruh permukaan Tanah.

Bumi sangat gembira melihat setiap ciptaan yang mulai meramaikan hidupnya. Begitu juga Terang, Gelap serta Air yang masing masing mulai berkreasi sendiri meng-evolusikan setiap ciptaan Bapa-ku.

Untuk mengawasi dan mengatur segala musim-musim yang ada di Bumi, Bapa-ku mengirimkan Matahari dan Bintang serta Bulan yang masing-masing memiliki perannya sendiri.

Matahari bertugas mengatur dan menempatkan Air di Bumi agar mereka tinggal merata di Cakrawala, Laut dan Tanah. Matahari menggunakan tenaga panasnya untuk mengubahkan Air menjadi Awan dan Hujan, serta menggunakan kedisiplinannya mengatur kapan dan di mana Terang dan Gelap boleh muncul. Bintang dan Bulan bertugas mengatur Gelap, agar ketika Waktu Malam tiba, setiap mahluk di Bumi bisa melihat satu sama lain.

Atas semuanya ini, Bapa-ku melihat bahwa itu adalah baik. Kepada Hewan dan Tumbuhan, Ia memerintahkan mereka untuk menyebar dan memenuhi seluruh pelosok Bumi, agar tidak ada sedikitpun bagian dari Bumi yang tidak terpakai dan tersia-siakan.

To be continue…

Next on Nova… “Manusia

Nova – Terang

In Nova on June 25, 2008 at 2:20 pm

Previously on Nova… “Bintang

Terang

Bapa-ku seorang pencipta yang hebat, Ia mendesign segala yang ada dan yang belum ada. Bintang Timur, saudaraku, menceritakan padaku bahwa pada awalnya Kosong mendiami tempat ini.

Kosong merasa kesepian, meskipun sebenarnya Gelap selalu menemaninya. Namun Gelap dengan segala kegelapannya tidak mampu mengisi kehidupan Kosong yang penuh dengan kesepian.

Bapa-ku melihat bahwa hal itu tidak baik. Maka Ia menciptakan Terang untuk menjadi sahabat Kosong. Sejak itu kehidupan Kosong mulai berubah. Ia jadi mampu melihat segala keindahan yang telah diciptakan oleh Bapa-ku.

Terang mengisi diri Kosong dengan penuh warna warni kehidupan. Ia memberikan arti pada Kosong. Bahkan ketika Kosong kembali berpaling pada Gelap dan mencoba mengisi dirinya dengan berbagai macam kesenangan yang ia bisa temukan, namun tidak satupun yang mampu menggantikan keberadaan Terang dan makna yang mampu diberikannya.

Hal ini membuat Gelap merasa cemburu dan benci terhadap Terang. Dengan segala kelamnya, ia selalu menyelimuti Kosong dan menjanjikannya dengan berbagai macam kenikmatan. Bahkan sampai hari ini.

To be continue…

Next on Nova…”Bumi

Nova – Bintang

In Nova on June 25, 2008 at 11:46 am

Bintang

Margaku Bintang dan namaku Nova. Aku tinggal di menara langit. Sebuah tempat tanpa sekat pemisah dan pintu jeruji. Di suatu kota bernama Surga. Bapa-ku sangat menyukai Bintang, Ia menghiasi seluruh langit Surga dengan jutaan Bintang. Bahasa kami disebut Cahaya, penuh makna dan tak pupus dimakan jarak.

Bapa-ku meletakan kami dalam gugusan, yang berjejer dalam segala bentuk dan formasi. Bapa-ku menyukai keteraturan, oleh karenanya setiap diri kami selalu berada di satu titik dimana Ia bisa menikmatinya. Dalam pancaran Cahaya kami ketika sedang berkomunikasi, Bapa-ku tersenyum bangga akan setiap dari kami.

Dibanding jutaan saudara-saudaraku, aku sangat terang. Bapa-ku bilang itu karena aku lahir baru beberapa milyar tahun yang lalu. Ia selalu berkata bahwa suatu masa aku akan menjadi seperti saudara tertuaku, Bintang Timur.

To be continue…

Next on Nova… “Terang