Previously on Nova… “Manusia”
Lantang
Lantang adalah suara yang bergema di padang gurun. Gemanya menyerukan perubahan.
Gemanya menggentarkan yang munafik. Namun merupakan penunjuk jalan bagi yang bingung tanpa arah.
Lantang berseru-seru tanpa lelah mempersiapkan jalan menuju yang dijanjikan.
Lantang keluar dari mulut seorang pria yang memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Ia tinggal di tepi sungai di mana airnya keruh oleh ketakutan, kepahitan dan keputus asaan. Yang hidup dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang mengenal Bapa-ku hanya dari tradisi dan dongeng hukuman turun temurun.
Pria itu lahir dari kedua orang tua yang sudah lanjut usia. Mereka tidak mempunyai keturunan lain. Bapa-ku tergerak melihat hati mereka yang begitu setia dan belum larut dalam kemunafikan dan bermaksud untuk mengaruniakan mereka buah hati.
Suatu malam Bapa-ku mengirimkan Gabriel, Malaikat-Nya, untuk mengabarkan kabar baik bahwa Bapa-ku tidak memalingkan mata-Nya dari mereka.
Sementara itu seluruh bangsa berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. Sebuah tradisi yang telah dilakukan ratusan tahun tanpa mereka maknai tindakannya.
Maka tampaklah seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu aku menyaksikan sang ayah terkejut dan menjadi takut. Setelah mendengar kabar baik yang disampaikan Gabriel ia menjadi bisu sampai anaknya lahir.
Sang anak besar di hadapan Bapa-ku dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras. Ia telah penuh dengan Roh mulai dari rahim ibunya. Aku menyaksikan sang anak tumbuh besar di padang gurun sampai tiba waktunya ia menyerukan perubahan.
Seruannya Lantang memanggil ribuan Manusia yang penasaran akan perubahan yang disuarakannya. Dengan Lantang seruan akan pertobatan dari kemunafikan diserukan.
“Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” demikianlah seruannya.
Maka datanglah kepadanya penduduk dari seluruh daerah sekitar sungai. Lalu sambil mengakui dosanya mereka beramai-ramai menyelamkan dirinya di sungai sebagai sebuah tanda perjanjian bahwa mereka akan berbalik dari kemunafikan mereka.
Dari sekelompok ahli tradisi dan tukang dongeng dikirimkan utusan untuk mencari tau apa yang direncanakan pria bersuara Lantang itu. Kepada mereka dengan Lantang ia berseru “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”
Sejak saat itu tradisi dan dongeng penghukuman mulai ditinggalkan bangsa-bangsa itu. Seruan tegurannya yang Lantang sampai ke telinga penguasa pada masa itu dan ia pun menyuruh pengawal-pengawalnya untuk menangkap dan membelenggunya.
Ia ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang pria bersuara Lantang itu sebagai yang tidak bersalah. Tapi dalam kesedihan atas sumpahnya kepada putri haramnya, penguasa itu maka disuruhnya memenggal kepala pria bersuara Lantang itu di penjara dan kepalanya itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.
Pada malam terakhirnya masih dengan Lantang ia bercerita padaku sukacitanya karena bisa mati setelah menunaikan tugasnya.
Ia bercerita tentang seorang muda yang yang datang kemudian, yang lebih berkuasa dari padanya dan yang ia bahkan tidak layak melepaskan kasut-Nya.
Yang dalam kepatuhan menyerahkan dirinya padanya dan melakukan serendah apa yang orang lain lakukan. Yang setelah keluar dari air dan langit terbuka dan ia melihat Roh Bapa-ku seperti burung merpati turun ke atas-Nya.
“Jalan telah diluruskan” begitu kata-katanya masih dengan Lantang sebelum ia terlelap tidur untuk selamanya.
Aku tersenyum penuh linang. Pria bersuara Lantang itu telah bertemu saudara tertuaku Bintang Timur.
To be continue…
Next on Nova… ”Angin”









